Jakarta Media NewsTuesday, 21 May 2013
Find Us on : RSS/Feed Facebook Twitter

You Are Here: Home » Pakar Bicara, Pakar Indonesia » Kesalahan Penanganan Depresi Pada Lanjut Usia

Kesalahan Penanganan Depresi Pada Lanjut Usia

Berita ini dipost pada 8 April 2012, jam 12:04.

Kesalahan pendekatan penaganan penanganan Depresi pada lanjut usia bisa berakibat kontra produktif, ujar Dr. Tony Setiabudhi, Ph.D kepada Jakarta Media News di Jakarta.

 

Depresi Pada Lanjut Usia menurut Dr. Tony Setiabudhi Ph.D.

Menurut Dr. Tony Setiabudhi, Ph.D, depresi pada lanjut usia merupakan suatu gangguan penyakit yang unik – Bahkan banyak ahli mengistilahkan Depresi ini lebih ekstrim lagi sebagai “True Depression in the aged is the syphilis of geriartric medicine”, (is the greatest imitator of other deseases, it frequently lead to a state of withdrawal and inanition which mimics dementia, etc)

 

Sindrom Depresi pada lanjut usia:

1. Gangguan Sindrom Depresi Psikik, berupa gangguan Afektif, gangguan Distimik, Siklotimik dan sebagainya.

2. Gangguan Sindrom Depresi Organik

Gangguan akibat Sindrom Depresi Organik bahkan bisa mengakibatkan Brain Injury (cedera otak) Depression yang biasanya akibat kesalahan pengguanaan obat seperti Reserpin dan sejenisnya.

3. Gangguan Sindrom Depresi Situasional, atau dengan kata lain gangguan penyesuaian pada diri pasien + depresi (grief reaction)

4. Gangguan Sindrom Depresi Penyerta

Gangguan sindrom ini meliputi Gangguan Jiwa + Depresi, misalnya pada gangguan obsesi kompulsi. Kemudian tahap selanjutnya adalah Gangguan Fisik + Depresi, misalnya Stroke, MCI, Kanker dll.

 

Khususnya kemunduran faal tubuh maupun berkurangnya produksi neurotransmitter catechol-amine pada usia lanjut, disertai dengan bertambahnya enzym mono-amino-oxydase disusunan saraf pusat, yang akan menambah berat manifestasi depresi pada kelompok ini.

 

Maka agar tak terjadi kesalahan pendekatan pada penanganannya, penting untuk mengetahui faktor Predisposisi yang mendasari terjadinya depresi pada lansia, seperti:

  1. Faktor Biologik, akibat depresi yang diderita pasien sebelumnya. Atau akibat perubahan dalam neurotransmitter di dalam diri pasien.
  2. Faktor Fisik, mengakibatkan gangguan fisik, seperti gangguan metabolik dan endokrin, Cardio-vaskular atau gangguan penyakit kronis menjadi salah satu pemicu depresi pada lansia.
  3. Faktor Psikologik, meliputi konflik yang tak terselesaikan seperti kecemasan dan rasa salah yang berlebihan, mundurnya daya ingat (pikun) atau dementia dan gangguan kepribadian juga menjadi salah satu fakot dominan Depresi pada lansia.
  4. Faktor Sosial, biasanya terjadi akibat pasien kehilangan orang yang sangat dicintainya, seperti keluarga, kerabat, teman dekat, pekerjaan dan kehilangan pendapatan yang sangat mempengaruhi kejiwaannya. Seringkali pasien bertingkah laku aneh akibat kehilangan kerabat yang sangat dekat dengannya.

 

Pada waktu lalu penanganan Depresi dilakukan dengan pemberian zat-zat yang bersifat merangsang atau stimulan sifatnya, seperti amphetamnie atau benzine-drine, namun kini pendekatan itu sudah mulai ditinggalkan dengan lebih mengedepankan pendekatan psikologis berdasarkan data riwayat medik. Untuk disesuaikan dengan tindakan medis berupa pemberian obat yang dibutuhkan.

 

Inti nya penanganan dan pendekatan yang komprehensif, mutlak diperlukan, untuk meminimalisir tingkat kesalahan pendekatan depresi pada lanjut usia, ujar Dr. Tony Setiabudhi, Ph.D. menutup pembicaraan.  (Ded/Red)


Most visitors also read :